Postingan

Urgensi Mahasiswa menjadi KUPU-KUPU, Organisatoris dan Aktivis

Gambar
Oleh, Anma Muniri Siswa yang berada di kelas 12 tingkat SLTA pastinya sudah memikirkan masa depan yang akan di jalani. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, ASN, teknisi, pilot, dan lain sebagainya. Semua itu di pikirkan demi meraih cita-cita yang didambakan. Terlebih dibarengi dengan dukungan orang tua berupa moril dan materiil menkonstruk pola pikir dan surplus tersendiri. Salah satu hal yang masif di pikirkan oleh siswa  SLTA adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mengenal lebih jauh, pendidikan tinggi identik dengan memproduksi para akademisi bahkan dapat mencetak kaum borjuasi. Sering kali pertimbangan yang di jadikan patokan adalah "Kuliah mau jadi orang". Lebih jelasnya tujuan  pendidikan tinggi diatur dalam UU RI 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 5 diantaranya, mengembangkan potensi mahasiswa, menghasilkan lulusan yang kompeten, menghasilkan IPTEK melalui penelitian, mewujudkan pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian.

Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama

 Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama  Oleh Sulkhan Zuhdi Di Jawa, masjid-masjid tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Ramalan teoritikus sekuler soal berkurangnya peran institusi keagamaan seakan hancur lebur tidak berbekas. Senjakala agama tidak kunjung datang, malahan paham sekulerisme secara formal dihabisisi lewat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.7/Kongres Nasional VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama. Ungkapan ini tentu bukannya tanpa dasar. Tidak hanya agama, di Indonesia setelah kejatuhan pemerintahan Soeharto, ortodoksi keagamaan menguat. Dampaknya tentu saja pemingggiran ‘suara-suara lain’, meminjam istilah yang dipakai Hairus Salim dalam pengantar edisi terjemahan bahasa Indonesia buku Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (2004). Pengingkaran akan keberadaan hak yang liyan nyata-nyata berdampak besar. Hilangnya diskursus akademik terkait kekompok-kelompok yang dulu sering diolok sebagai abangan d

Produktif di Tengah Krisis Pandemi

Gambar
 Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia ini. Dikatakan demikian, karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani atau bercocok tanam. Tidak heran memang, jika bahan mentah seperti sayur-mayur dan buah-buahan dapat dibeli dengan murah ataupun ditanam sendiri. Tanah Indonesia terkenal subur untuk menanam sayur-mayur, rempah-rempah, buah-buahan, ataupun jenis tumbuhan lain. Hal itu dapat dibuktikan dengan kedatangan Belanda pada zaman sebelum kemerdekaan untuk menguasai sumber daya alam melimpah yang ada di Indonesia.   Situasi di Indonesia saat ini, berbanding terbalik dan berbeda dari yang biasanya terjadi. Saya yang dulu mendapatkan sayur-mayur, bumbu dapur, dan tanaman obat tradisional sangat mudah dengan mengunjungi pasar tradisional, kini harus rela tidak mendapatkannya karena stoknya terbatas. Ketika menemukannya itu sudah layu, ataupun dalam kondisi kurang baik dikonsumsi. Tidak hanya sayur mungkin, sektor lain pun mengalami kendala karena adanya situasi i

Matinya Sekulerisme Dan Kebebasan Beragama

Gambar
  Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama Oleh Sulkhan Zuhdi Di Jawa, masjid-masjid tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Ramalan teoritikus sekuler soal berkurangnya peran institusi keagamaan seakan hancur lebur tidak berbekas. Senjakala agama tidak kunjung datang, malahan paham sekulerisme secara formal dihabisisi lewat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.7/Kongres Nasional VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama. Ungkapan ini tentu bukannya tanpa dasar. Tidak hanya agama, di Indonesia setelah kejatuhan pemerintahan Soeharto, ortodoksi keagamaan menguat. Dampaknya tentu saja pemingggiran ‘suara-suara lain’, meminjam istilah yang dipakai Hairus Salim dalam pengantar edisi terjemahan bahasa Indonesia buku Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (2004). Pengingkaran akan keberadaan hak yang liyan nyata-nyata berdampak besar. Hilangnya diskursus akademik terkait kekompok-kelompok yang dulu sering diolok sebagai aba

Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD?

Gambar
Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD? Oleh Anma Muniri KPUM Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah sebagai penyelenggara Pesta FUAD menjadi representasi dari demokrasi mahasiswa di IAIN Tulungagung. Jargon Suara Mahasiswa Suara Esa menjadi platform yang penuh dengan makna filosofis.  Ditambah KPUM mampu membuat inovasi pemilihan raya daring di tengah pandemi. Hal nyleneh pernah dialami KPUM yaitu sebelum penetapan calon Ketua HMJ maupun DEMA. Mengumumkan peraturan Kampanye yang kontroversial padahal paslon belum diumumkan. Peraturan juga dibuat tanpa berlandaskan Ketetapan dasar hukum dari KPUM. Hanya dibuat dengan rasionalisasi tanpa ada ketetapan khusus yang merujuk pada pasal-pasal yang termaktub dalam konstitusi. Kalau hanya termaktub pada peraturan yang berlandaskan rasionalisasi tentunya akan menimbulkan pertanyakan pula. KPUM tidak punya acuan yang konkrit, bahkan kalau rasionalisasi peraturan akan mudah silih berganti. Peraturan akan berubah-ubah sesuai ketetapan rasionalisa

Indonesia Belum Terbiasa Membaca

Gambar
 Indonesia Belum Terbiasa Membaca      Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan seseorang. Selain sebagai pemuas dahaga pengetahuan setiap individu, pendidikan juga sebagai pendorong indeks pembangunan manusia suatu negara. Pendidikan yang efektif akan menciptakan  sumber daya manusia berkualitas dan dapat bersaing di kancah internasional.      Sayangnya, pendidikan belum berlangsung dengan baik di Indonesia karena banyaknya faktor yang menghalangi, seperti anggapan tidak pentingnya pendidikan, mahalnya biaya untuk mengenyam bangku sekolah, tingginya angka kemalasan, saran belum memadai untuk daerah tertinggal, dan lain sebagainya. Jika hal ini tidak diatasi dengan cara yang efektif, maka akan terus menambah beban negara terutama pada ketertinggalan dalam bidang pengetahuan dengan negara lain.     Di era globalisasi, pendidikian terbagi menjadi pendidikan formal, non-formal dan informal, dimana satu dengan yang lainnya saling mendukung. Banyak contoh pendidikan

Integrasi Spiritualitas Manusia dan Alam dalam Kebudayaan Resiko

Gambar
Perbincangan isu relasi manusia dengan alam kembali serius diperhatikan sebagai dampak keberlangsungan hidup yang mulai terancam. Sebagai bagian penting dari kehidupan manusia, alam musti dilestarikan.   Oleh karenanya dua entitas ini saling berkaitan. Manusia sebagai entitas yang memiliki sisi spiritual berpeluang besar dalam mengintegrasikan kembali bentuk relasinya dengan alam yang saling menguntungkan.  Belakangan ini tindakan manusia makin tidak ramah. Eksploitasi lingkunga terjadi dimana-mana. Untuk memuaskan kebutuhan diri di era modern, manusia cenderung sangat konsumtif dan semakin jauh dari kesadaran mencintai alam.  Karya Giddens mengenai modernitas yang disebutnya sebagai kebudayaan risiko diartikan bahwa, tahap ini mereduksi keberisikoan cara kehidupan secara keseluruhan (Ritzer, 2012: 946). Ulrich Back juga menunjukkan bahwa risiko-risiko modern tidak terbatas pada tempat atau waktu melainkan juga melekat pada pola kelas. Artinya masalah yang ditimbulkan oleh ilmu pengeta