Pengaruh Orang Tua Millenial Terhadap Kinerja Otak Anak

Pengaruh Orang Tua Millenial terhadap kinerja Otak Anak

pengaruh orang tua millenial terhadap kinerja otak anak

Di dalam Era Globalisasi ini pastinya kita tidak asing lagi dengan kata millenial, kata itu kini sangat membuming di pikiran pemuda bangsa ini. Banyak sekali pengertian yang dapat diketahui ketika kita bertanya kepada satu persatu teman kita. Nah, sebelum pembahasan dilanjutkan lebih baik kita harus  mengetahui makna millenial terlebih dahulu.

CNN Indonesia di tahun 2016 dalam judulnya “Generasi Millenial dan Karakteristinya” menjelaskan bahwa Generasi Millennial (GenerasiY) adalah kelompok demografis setelah Generasi X. Peneliti sosial mengelompokkan orang yang lahir pada tahun 1980-2000 an disebut sebagai generasi millenial. Kalau dihitung sampai sekarang berarti generasi millenial adalah seseorang yang berumur 18-38 tahun di massa sekarang.

Terdapat tujuh karakteristik generasi millennial yang telah dikemukakan CNN Indonesia:

  • Millennial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah.
  • Millennial lebih memilih ponsel dibanding TV.
  • Millennial wajib punya media sosial.
  • Millennial kurang suka membaca secara konvensional.
  • Millennial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka.
  • Millennial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif.
  • Millennial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless.

Teman teman pasti sudah tahu kan apa yang disebut generasi millennial dari pemaparan penulis diatas. Bisa kita simpulkan bahwa sebagian dari generasi millennial ini sudah menikah dan mempunyai anak, lantas apa pengaruh dari karakteristik millennial yang dibawa orang tua dan diterapkan kepada anaknya. Ada banyak kasus yang dilakukan oleh orang tua millennial terhadap anaknya yang sangat berpengaruh terhadap kinerja otak anak.

Beberapa hari ini penulis telah mencoba mengamati tentang pengaruh tersebut. Kebanyakan orang tua millennial mengasuh anak mereka dengan cara memberikan gadget untuk anaknya, mengapa demikian?.
Dalam tujuh karakteristik diatas sudah dijelaskan pada  bagian b, pengaplikasian yang dilakukan dirinya itu diturunkan oleh orang tua millennial terhadap anak mereka, wajar saja karena didalam gadget terdapat banyak hal yang membuat anak betah dan tak ingin meninggalkannya. Terdapat banyak fitur di gadget yang disukai oleh anak, semisal game online yang sekarang memang lagi maraknya, video tentang anak juga bisa membuat anak suka, dan masih banyak  lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Orang tua millennial sering kali meninggalkan hak anak mereka, anak yang seharusnya bisa bermain bersama teman temannya kini harus menuruti keinginan orangtuanya untuk diam dirumah dengan suguhan gadget di kehidupannya.

Permasalahan fatal yang dilakukan oleh orang tua millennial terhadap anak mereka adalah prespektif mereka bahwa anak yang baik adalah anak yang diam dirumah tanpa pernah memperbolehkan anak bermain diluar  dengan teman sebayanya. Usia anak anak adalah masa pembelajaran yang sangat efektif, perlu kita pahami bahwa “Anak  bukanlah pemikir yang cerdas, tetapi anak adalah peniru yang handal’, Semisal waktu dikelas terdapat guru yang menyuruh murid untuk belajar hidup sehat, tetapi guru tersebut merokok dikelas tersebut, maka secara tidak langsung guru tersebut telah mencederai perkataan yang telah ia sampaikan kepada murid. Sebagai guru atau orang tua kita selain mendidik anak kita untuk hidup yang sehat, hendaknya ia berbenah diri dulu, ia harus menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya, karena murid atau anak sangatlah membutuhkan sang motivator bagi dirinya.

Perlu kita ketahui bahwa sebagian besar anak di masa sekarang ini sangatlah sulit menerima penjelasan dari guru ataupun orang tua yang bersifat verbal, ataupun tulisan kertas yang bertulisakan hitam diatas putih, mengapa demikian?, anak di masa sekarang terlalu banyak menerima informasi yang bersifat multimedia dalam visual mereka, biasanya berupa video, game online, internet, ataupun media social yang setiap hari selalu menjadi teman anak.

Siapa yang harus disalahkan dari setiap masalah diatas?. Dunia memang sudah sangat berbeda dengan dulu, dimana dulu anak sering menghabiskan waktu bermainnya menyatu dengan alam, bermain dengan teman sebaya, dan lebih banyak mencoba hal yang baru dan bersentuhan langsung dengan indahnya alam. Jarang sekali kita bisa menemukan hal semacam itu lagi, hal yang memang indah untuk dikenang dan diceritakan pada anak cucu kita.

Zaman memang sudah berubah, tapi tidak ada yang mustahil terjadi kalau kita berusaha dan tawakkal dari setiap keadaan yang ada. Pesan untuk seluruh orang tua, mulai sekarang coba jauhkan anak anda dari gadget yang menghantui kehidupannya, rasakanlah perubahan anak apabila sudah teracuni oleh gadget dan tidak. Cobalah untuk membolehkan anak menyatu dengan alam, dan carikan teman untuknya bermain, tentunya tetap dalam pengawasan orang tua.

Untuk pemecahan masalah : KLIK DISINI

                                                                                                                                     
LihatTutupKomentar