Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Matinya Sekulerisme Dan Kebebasan Beragama

Gambar
  Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama Oleh Sulkhan Zuhdi Di Jawa, masjid-masjid tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Ramalan teoritikus sekuler soal berkurangnya peran institusi keagamaan seakan hancur lebur tidak berbekas. Senjakala agama tidak kunjung datang, malahan paham sekulerisme secara formal dihabisisi lewat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.7/Kongres Nasional VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama. Ungkapan ini tentu bukannya tanpa dasar. Tidak hanya agama, di Indonesia setelah kejatuhan pemerintahan Soeharto, ortodoksi keagamaan menguat. Dampaknya tentu saja pemingggiran ‘suara-suara lain’, meminjam istilah yang dipakai Hairus Salim dalam pengantar edisi terjemahan bahasa Indonesia buku Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (2004). Pengingkaran akan keberadaan hak yang liyan nyata-nyata berdampak besar. Hilangnya diskursus akademik terkait kekompok-kelompok yang dulu sering diolok sebagai aba

Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD?

Gambar
Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD? Oleh Anma Muniri KPUM Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah sebagai penyelenggara Pesta FUAD menjadi representasi dari demokrasi mahasiswa di IAIN Tulungagung. Jargon Suara Mahasiswa Suara Esa menjadi platform yang penuh dengan makna filosofis.  Ditambah KPUM mampu membuat inovasi pemilihan raya daring di tengah pandemi. Hal nyleneh pernah dialami KPUM yaitu sebelum penetapan calon Ketua HMJ maupun DEMA. Mengumumkan peraturan Kampanye yang kontroversial padahal paslon belum diumumkan. Peraturan juga dibuat tanpa berlandaskan Ketetapan dasar hukum dari KPUM. Hanya dibuat dengan rasionalisasi tanpa ada ketetapan khusus yang merujuk pada pasal-pasal yang termaktub dalam konstitusi. Kalau hanya termaktub pada peraturan yang berlandaskan rasionalisasi tentunya akan menimbulkan pertanyakan pula. KPUM tidak punya acuan yang konkrit, bahkan kalau rasionalisasi peraturan akan mudah silih berganti. Peraturan akan berubah-ubah sesuai ketetapan rasionalisa

Indonesia Belum Terbiasa Membaca

Gambar
 Indonesia Belum Terbiasa Membaca      Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan seseorang. Selain sebagai pemuas dahaga pengetahuan setiap individu, pendidikan juga sebagai pendorong indeks pembangunan manusia suatu negara. Pendidikan yang efektif akan menciptakan  sumber daya manusia berkualitas dan dapat bersaing di kancah internasional.      Sayangnya, pendidikan belum berlangsung dengan baik di Indonesia karena banyaknya faktor yang menghalangi, seperti anggapan tidak pentingnya pendidikan, mahalnya biaya untuk mengenyam bangku sekolah, tingginya angka kemalasan, saran belum memadai untuk daerah tertinggal, dan lain sebagainya. Jika hal ini tidak diatasi dengan cara yang efektif, maka akan terus menambah beban negara terutama pada ketertinggalan dalam bidang pengetahuan dengan negara lain.     Di era globalisasi, pendidikian terbagi menjadi pendidikan formal, non-formal dan informal, dimana satu dengan yang lainnya saling mendukung. Banyak contoh pendidikan

Integrasi Spiritualitas Manusia dan Alam dalam Kebudayaan Resiko

Gambar
Perbincangan isu relasi manusia dengan alam kembali serius diperhatikan sebagai dampak keberlangsungan hidup yang mulai terancam. Sebagai bagian penting dari kehidupan manusia, alam musti dilestarikan.   Oleh karenanya dua entitas ini saling berkaitan. Manusia sebagai entitas yang memiliki sisi spiritual berpeluang besar dalam mengintegrasikan kembali bentuk relasinya dengan alam yang saling menguntungkan.  Belakangan ini tindakan manusia makin tidak ramah. Eksploitasi lingkunga terjadi dimana-mana. Untuk memuaskan kebutuhan diri di era modern, manusia cenderung sangat konsumtif dan semakin jauh dari kesadaran mencintai alam.  Karya Giddens mengenai modernitas yang disebutnya sebagai kebudayaan risiko diartikan bahwa, tahap ini mereduksi keberisikoan cara kehidupan secara keseluruhan (Ritzer, 2012: 946). Ulrich Back juga menunjukkan bahwa risiko-risiko modern tidak terbatas pada tempat atau waktu melainkan juga melekat pada pola kelas. Artinya masalah yang ditimbulkan oleh ilmu pengeta

Menghidupkan Kembali Mbah Mudjair

Gambar
          Iwan Dalauk (Mbah Moedjair)      Blitar, siapa yang tidak kenal dengan kota sang proklamator ini. Dimana terdapat banyak sekali pahlawan yang sudah dimakamkan di dalamnya. Termasuk Bapak Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno. Selain itu, ada hal menarik lainya di Desa Papungan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, ada seorang penemu ikan Mudjair yang menurut harian pedoman edisi 27 Agustus 1951 telah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda melalui asisten resident Kediri dengan memberinya santunan sebesar Rp.6,- per bulan. Ia juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pertanian tahun 1951 atas jasanya sebagai perintis perkembangan ikan Mudjair dari air laut ke air tawar. Tidak berhenti di situ, penghargaan datang tidak hanya dalam skala nasional, beliau juga menyabet penghargaan Internasional dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik pada tahun 1953. Di Bogor, pada 30 Juni 1954 beliau juga mendapatkan penghargaan dari Indone

LAMUNAN NEGERIKU

Gambar
Ku melamun dalam singgasana pulau kapuk Sembari membayangkan rentetan masa lalu penuh perjuangan Terjerumus dalam alunan-alunan suara tembakan  Dorr....salah satu prajurit tergeletak Tertembak dadanya sembari menjerit Merdeka atau Mati!.. Sepuluh November meletus Bumi berkabung meratapi penderitaan manusia-manusia Irlander memperjuangkan hak-haknya Atas penindasan berabad-abad lamanya B Berjuang dengan sepenuh hati Semangat bergelora nan menggebu-gebu bagai ombak-ombak berkejar-kejaran tanpa henti  Mengusir pengusik negeri ini Lamunanku tersendat.. Aku bertanya-tanya Apa yang ku bayangkan, apa yang ku lamunkan? Sosok pejuang kemerdekaan? Atas penindasan di negeri ini? Ku mencoba melamun lagi Indonesia kaya raya  Di selimuti ribuan pulau, ribuan suku, Hasil bumi melimpah nan ruah Tapi......? Lihatlah rakyat kecil.. Menderita kelaparan, menangis meronta-ronta Awan menjadi saksi  Bumi menjadi bukti Matahari menghakimi Tanpa ada yang peduli Bumi diekspl

SANG PENGAGUMMU

Gambar
Aku terngiang dalam lamunanku sendiri. Mencoba meraih mimpi dalam angan yang selalu ternodai. Cukup sedikit kopi dan hisapan rokok yang setiap hari menemani. Terbayang sosokmu dalam setiap detak jantungku. Berirama keras dalam setiap denyut nadiku. Selalu tampak mendekat, dan bersemayam dalam lubuk hatiku. Aku ingin kau tahu tentang diriku. Mata yang selalu menjadi pengingat setiap wajahmu. Dulu, dan bahkan hingga sekarang ku masih menginginkanmu. Sang bidadari bak penerjemah qalbu. Hai kau yang kerap kali datang dalam lamunan. Saksikanlah mentari yang selalu tersenyum dalam teriknya. Bulan yang selalu cemburu disetiap lirikannya. Pula alam yang selalu menari dalam setiap detiknya. Kau indah, Dan aku mengagumimu sepanjang waktu. Salam dariku sang pengagummu. Blitar, 07 September 2020 Dandi Agil Saputra, founder Komunitas MADANI

AKU ANGIN DALAM KATA

Gambar
Angin bertanya padaku. Siapakah kamu? Aku menjawab dengan cumbu. Aku adalah jiwamu. Diriku tetap berjalan mantab. Nan, tidak memiliki tempat menetap. Berjalan tanpa tujuan. Berhembus tanpa mengendus. Berbicara tanpa kata. Berlari tanpa kaki. Aku tidak menggerayangi. Seperti yang dikatakan banyak penyair saat berpuisi. Aku tidak membelai lembut. Seperti rangkulanmu pada kekasih lewat mulut. Aku tidak melenakkan. Seperti nafsu kalian tanpa pengaruh setan. Aku tidak terikat waktu. Aku bebas menemuimu. Aku seperti angin dalam kata. Antara ada dan tiada. M. Irham Wildana Murtafiudin   penulis buku ' Beri Kami yang Terbaik' & Founder Komunitas MADANI

SAMPAH MAK IJAH

Gambar
Di pagi buta kau dengan sigap mengais harta. Datang ke halaman luas untuk membersihkanya yang bak alas. Kau tak peduli rasa dingin yang menggerayangi. Kau tak peduli tatapan sipit orang-orang yang iri. Iri melihatmu bangun pagi. Iri melihat ketangkasanmu dalam berlari. Iri dengan pekerjaan sederhana yang membuat keluargamu selalu bahagia. Kau tak pernah mengeluh dalam rapuh. Kau tak pernah menangis dalam dunia yang bengis. Kau tak pernah menyesal dengan kerasnya hidup yang menjejal. Biarpun kau tak berpendidikan, tapi kau berjuang agar anakmu mengenyam pendidikan. Biarpun kau bodoh, tapi kau berharap agar anakmu bisa menghilangkan kebodohan. Mak Ijah… Setiap hari kau selalu bergelut dengan sampah. Bahkan sampahmu lebih berharga daripada mereka yang hanya bergaya. Bergaya dengan harta orang tua. Bergaya dengan jabatan dari teman sesama. Mereka tak tahu, ada Kartini sepertimu yang memperjuangkan hidup anak-anakmu. -Suatu Subuh di Tulungagung- M. Irham Wildan

COKLAT PANASMU

Gambar
Coklat panas kauseduh dengan segenap penghayatan. Bibir mungilmu mulai bercumbu dengan gelas kehormatan. Satu persatu cumbuan itu membuatku cemburu. Sebab kau lebih menyukai gelas cumbuanmu daripada aku. Hampir saja aku memperkosa coklat panasmu. Saat pikiranmu sedang terbuai kenikmatan, syahdu. Kau membuka matamu hingga aku terjerembab malu Ah, kacaulah aku.. Kau bertanya ada apa? Aku menjawab dengan rasa. Kau bertanya mengapa? Aku memoles dan menyimpanya dalam dada. Kau bertanya kapan? Sejak bertemu denganmulah aku mulai menuhankan harapan. M. Irham Wildana Murtafiudin   penulis buku ' Beri Kami yang Terbaik' & Founder Komunitas MADANI

Bantahan kepada Sulkhan Zuhdi Terhadap Tuduhan Kepada Marvin Harris

Gambar
Bantahan kepada Sulkhan Zuhdi Terhadap Tuduhan Kepada Marvin Harris: memakai teori Cultural-Materalism bukanlah dosa! Bermalam-malam kami berdiskusi tentang mistisisme dan kebudayaan lokal. Hal yang tak saya terima dari kelas-kelas administrasi publik. Yang hanya diisi oleh rasan-rasan kebijakan dan gaya teknokrasi paling modern. Entah itu perubahan paradigma administrasi yang bercerai dengan politik bahkan pelayanan berbasis daring. Meskipun bab tersebut tidak saya jumpai di daerah-daerah(baca: desa). Perbedaan gaya kepemimpinan maupun semangat para teknokrat yang berbeda apabila dibandingkan dengan daerah asal saya, yang segala pelayanan publik semudah menjentikkan jari. Seorang teman diskusi berasal dari kota pesisir laut Jawa. Sebuah ekosistem yang cocok bercokolnya tradisi mistisisme. Dan Ia sendiri tengah mempelajari mistisisme Nyi Roro Kidul, yang konon menjadi simbol keperkasaan perempuan. Barangkali Nyi Roro Kidul memang sulit ditaklukan tetapi perlahan namun pasti t

POKDARWIS DAN EKOSISTEM BUDAYA

Gambar
Pengalaman mengunjungi desa baru dan berbincang dengan masyarakatnya selalu menjadi hal baru yang menyenangkan. Obrolan baru, pembahasan menarik, sekaligus bertambah karib baru. Beberapa hari lalu, saya ikut kegiatan Larung sembonyo di pantai Kedung Tumpang. Rencananya saya dan teman-teman mampir dulu di rumah sahabat kami, dek Risti Maimun. Namun, karena masih baru pertama kali kesana kami kok ndilalah udah sampai aja di depan portal masuk pantai, gagal rencana buat masuk gratis. Jalan menuju lokasi pantai menurut kami kok baik. Jalan cor yang kami lewati cukup mulus sambil menikmati pemandangan pantai-pantai yang nampak berjejer di bawah. Sesampainya di lokasi, kami masih clingak-clinguk mencari posisi nyaman menunggu dimulainya prosesi Larung sesaji. Kami duduk-duduk di pojok salah satu warung. Kok kebetulan di depan saya ada mas-mas pakai udheng yang sejak tadi kok gelagatnya seperti orang kenal. Telusur punya cerita, saya menyapa mas-mas yang kemudian saya ketah

RESAH

Gambar
Aku duduk di salah satu warung pojok kota, mencari apakah masih ada secuil kalimat untuk mengungkapkan keadaan bangsa. Mungkin sepele, namun aku selalu menggali kenapa dan kenapa hingga jawaban itu muncul percuma. Resah Yah, percuma. Sebab, aku tidak bisa melakukan apa-apa setelah menemukan jawabannya. Aku mau bergerak kakiku dijegal begitu saja. Aku mau terbang sayapku dipatahkan begitu beringasnya. Aku mau mendaki tanganku diborgol kanan-kiri. Kemudian kau datang dengan mata sembab. Berusaha tersenyum meski hatimu terjerembab. Kau melambaikan tangan padaku sambil menyapa "hai", lalu duduk dan bercerita panjang. Wahai Bangsaku Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu pemerintahmu sedang berleha-leha meskipun presiden sudah memarahinya. Aku tahu masyarakatmu juga menderita dan aku tahu para orangtua bingung mencari penghidupan untuk keluarganya. Mau menuntutpun kepada siapa? Bukankah semua telinga sudah penuh jejal kebosanan semata! Mau mengadu juga ke