Bantahan kepada Sulkhan Zuhdi Terhadap Tuduhan Kepada Marvin Harris

Bantahan kepada Sulkhan Zuhdi Terhadap Tuduhan Kepada Marvin Harris: memakai teori Cultural-Materalism bukanlah dosa!

Bantahan kepada Sulkhan Zuhdi Terhadap Tuduhan Kepada Marvin Harris

Bermalam-malam kami berdiskusi tentang mistisisme dan kebudayaan lokal. Hal yang tak saya terima dari kelas-kelas administrasi publik. Yang hanya diisi oleh rasan-rasan kebijakan dan gaya teknokrasi paling modern. Entah itu perubahan paradigma administrasi yang bercerai dengan politik bahkan pelayanan berbasis daring.

Meskipun bab tersebut tidak saya jumpai di daerah-daerah(baca: desa). Perbedaan gaya kepemimpinan maupun semangat para teknokrat yang berbeda apabila dibandingkan dengan daerah asal saya, yang segala pelayanan publik semudah menjentikkan jari.
Seorang teman diskusi berasal dari kota pesisir laut Jawa. Sebuah ekosistem yang cocok bercokolnya tradisi mistisisme. Dan Ia sendiri tengah mempelajari mistisisme Nyi Roro Kidul, yang konon menjadi simbol keperkasaan perempuan.

Barangkali Nyi Roro Kidul memang sulit ditaklukan tetapi perlahan namun pasti tengah dicoba dipelajari akar tradisi oleh beberapa intelektual.

Di tengah diskusi, saya mencoba memberikan alternatif pendekatan. Melalui “Cultural-Materialsm”-nya Marvin Harris. Seorang Antropolog yang menurut saya cukup rasional dalam menjelaskan kebudayaan yang sulit dijelaskan.

Marvin Harris berangkat dari kritik terhadap Pattern of Culture-nya Ruth Benedict. Ketika Ia kesulitan dalam menjelaskan alasan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat. Menurut Benedict, “pertama-tama Tuhan memberi semua orang cawan, cawan dari tanah, kemudian dari cawan tersebut tiap-tiap orang mencobai air yang beraneka. Tetapi tiap cawan itu ternyata berbeda”. Cawan tersebut diibaratkan sebagai suku dan bangsa yang berbeda dan memiliki tradisi yang berbeda pula.

Ketika ditanya kenapa memilih perbedaan yang jelas. Benedict hanya memberikan jawaban singkat, “Hanya Tuhan yang tahu!”
Saya melihat satu kemiripan dengan mistisisme dan idiom “Hanya Tuhan yang tahu”. Pertama, Ia (teman saya) menolak bahwa suatu tradisi dari sisi lain adalah unik sehingga apabila dijelaskan secara rasional, maka yang tampak adalah watak-watak orientalis; ke barat-baratan; atau bahkan kolonialis! Kedua, menolak membahas tradisi mistis alih-alih secara rasional berarti memperlihatkan kesulitan dalam menangkap realitas yang ada. Dan bagaimanapun kebudayaan adalah hal yang nyata dan berada dalam lingkup keseharian. Sehingga tidak mungkin jika kita hanya melihat sebagai suatu keadaan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia modern!

Upaya untuk merasionalisasikan kebudayaan oleh Marvin Harris bukanlah upaya ilmu pengetahuan yang tahu banyak hal. Tetapi Ia mengganggap bahwa upaya tersebut “is the strategic... to be most effective in attempt to understanding the cause of diffrences and similarities among societies and cultirues. It is based on the simple premise that human social life is a response to the practical problems of earthly existence.” Dan Ia menutup kalimat tersebut dengan, “i do not claim that it is a perfect strategy but merely that it is more effective than the alternatves.”

Saya menggarisbawahi dua hal: Earthly existance dan more effective than the alternatives. Karena persoalan tradisi organik masyarakat dan sangat mungkin diterjemahkan akar kebudayaannya. Dan teori-teori Marvin Harris tak lebih dari sebuah “Alternatif yang paling efektif”.

Misalnya saya contohkan dengan kesukaan masyarakat desa mengkonsumsi tanaman polowijo dan sangat patuh dengan tokoh keagamaan, atau yang sering disebut Kiai. Hal tersebut bukanlah tradisi yang turun dari langit, atau sesuati yang “Hanya Tuhan yang tahu”. Tetapi berdasarkan pada kondisi geografis masyarakat dan ciri masyarakat Timur yang menghormati orang yang lebih tua; bijaksana; guru atau kepada orang mempunyai kedudukan tinggi di tengah masyarakat. Dan Polowijo sebagai makanan endemik yang tumbuh subur di daerah tersebut. Karena mustahil mereka menyukai makanan yang di luar daerah mereka. Misalnya sushi, pasta, atau sate anjing laut sebagai makanan pokok.

Bisa pula dilihat dan dibandingkan dengan taboo orang Muslim atau Yahudi terhadap babi. Marvin Harris menyebutkan kebencian tersebut berdasar pada persoalan yang sangat sederhana, disamping ketaatan orang Muslim dan Yahudi pada perintah Tuhan. Ia menjelakan secara geografis babi memang tidak cocok berada di daerah panas atau gurun. Pertama, babi tidak memiliki sistem ekskresi melalui kulit, sehingga babi perlu bantuan faktor eksternal untuk menjaga tubuhnya tetap dingin: yaitu dengan berendam dalam lumpur. Kedua, babi memiliki porsi makanan dan jenis makanan yang sama dengan manusia. Sehingga akan wajar apabila babi tidak dipelihara alih-alih memberikan separuh makanan kepada babi. Sedangkan mereka dalam keadaan susah mendapatkan makanan.

Bandingkan dengan babi-babi yang berada di daerah tropis. Dimana mereka dapat memamah secara bebas makanan yang jatuh dari pohon. Dan keadaan hutan yang lembab. Tetapi, persoalan kemudian muncul. Bagaimana mungkin masyarakat arab –sebagai cikal-bakal adanya Islam- mengetahui adanya jenis hewan seperti babi, jika sejak awal memang babi tidak pernah ada di sana. Maka, jawaban yang masuk akal adalah mereka sejak membenci babi karena perintah Tuhan semata. Walaupun jawaban yang muncul barangkali tidak memuaskan, tetapi upaya pencarian tersebut penting dilihat sebagai penyingkapan tabir-tabir taboo dalam masyarakat. Dan hendaknya kita tidak melulu berpuas diri pada jawaban yang berasal dari teks alih-alih memcoba memecahkan “The Riddle of Culture” tersebut.

Pemecahan teka-teki kebudayaan bukanlah dosa asal. Tetapi saya menyebutnya sebagai kewajiban kita sebagai manusia. Dan apabila Anda menganut perintah Rasul untuk belajar di negeri China, maka hendaklah kita belajar di sana. Bukan hanya sekedar melancong dan berfoto ria. Sehingga, mencatat tradisi “sebagaimana adanya” bukanlah kerja seorang antropolog, melainkan sekedar menulis kumpulan-kumpulan ensiklopedia semata!

Jombang, 20 Agustus 2020



Yusup Chabibi, penjaga gawang daunarang.com , alumni Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
LihatTutupKomentar