POKDARWIS DAN EKOSISTEM BUDAYA

POKDARWIS DAN EKOSISTEM BUDAYA


Pengalaman mengunjungi desa baru dan berbincang dengan masyarakatnya selalu menjadi hal baru yang menyenangkan. Obrolan baru, pembahasan menarik, sekaligus bertambah karib baru.

Beberapa hari lalu, saya ikut kegiatan Larung sembonyo di pantai Kedung Tumpang. Rencananya saya dan teman-teman mampir dulu di rumah sahabat kami, dek Risti Maimun. Namun, karena masih baru pertama kali kesana kami kok ndilalah udah sampai aja di depan portal masuk pantai, gagal rencana buat masuk gratis.

POKDARWIS DAN EKOSISTEM BUDAYA

Jalan menuju lokasi pantai menurut kami kok baik. Jalan cor yang kami lewati cukup mulus sambil menikmati pemandangan pantai-pantai yang nampak berjejer di bawah.

Sesampainya di lokasi, kami masih clingak-clinguk mencari posisi nyaman menunggu dimulainya prosesi Larung sesaji. Kami duduk-duduk di pojok salah satu warung. Kok kebetulan di depan saya ada mas-mas pakai udheng yang sejak tadi kok gelagatnya seperti orang kenal.

Telusur punya cerita, saya menyapa mas-mas yang kemudian saya ketahui bernama Aan. Ia ternyata adalah anggota kelompok sadar wisata, disingkat Pokdarwis Pucanglaban dan kenal dengan kawan saya.

Kami ngobrol gayeng berbagi cerita. Dia sedikit banyak menceritakan soal seluk beluk ekosistem budaya di Kedung Tumpang dan Pucanglaban. Saya juga makin paham konteks ekonomi-sosial ketika mendengar sabdo utomo  Camat Pucanglaban, Pak Ali Mochtar, kalau tidak salah namanya.

Problem klasik dari daerah yang ingin punya basis wisata alam, seperti Pucanglaban, menurut saya adalah tidak adanya ekosistem kebudayaan yang berakar kuat di tubuh masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan mendasar saya soal Pucanglaban sering tidak diketahui masyarakatnya sendiri. Sang pemilik kebudayaan sekaligus pewarisnya.

Maka, tak cukup umpamanya dibangun infrastruktur penunjang pariwisata saja seperti waterpark dengan gelombang air seperti yang dibayangkan pak Camat, namun diperlukan juga para penggerak kebudayaan yang nantinya juga akan menyangga dan mewariskan tradisi dan pengetahuan lokal yang akan menjadi daya tarik berkelanjutan.

POKDARWIS DAN EKOSISTEM BUDAYA

Orang datang ke Bali tidak hanya karena pantainya yang indah, tapi mereka tertarik dengan kebudayaan masyarakatnya yang khas, kisah-kisah mitosnya yang ngeri-ngeri sedap dan paras ayu para penduduknya, heheu.

Keseimbangan antara pembangunan fisik untuk memberikan kemudahan dan diversitas pilihan harus dibarengi dengan pengembangan sumber daya manusianya. Pokdarwis sebagai garda terdepan, diisi anak-anak muda yang sanggup berpikir dan bertindak dinamis perlu didukung.

Pokdarwis bisa memainkan peran penting dalam mengawal dan mengelola tak hanya objek wisata namun juga menjaga keselarasan kosmologis, ekologis (lingkungan), dan sosiologis (pemberdayaan masyarakat). Perannya tak hanya membuat akun media sosial tapi menyelenggarakan pementasan seni tradisi rutin, mengkampanyekan konservasi lingkungan, serta menjadi tenaga pengelola teknis perekonomian desa dari hilir ke hulu.

Hal ini akan menyerap banyak tenaga anak-anak muda, sehingga tak harus 'terdampar' ke kota dan 'kehilangan' akarnya di desa. Tentu, butuh iktikad dan ikhtiyar bersama. Pemuda desa, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat dan institusi pendidikan dan penelitian, dalam konteks Tulungagung misalnya kampus IAIN Tulungagung dengan jurusan barunya Pariwisata Syari'ah (?).


Sulkhan Zuhdi, peneliti IJIR & Founder Komunitas MADANI
LihatTutupKomentar