REFLEKSI MUSKOHCAB TULUNGAGUNG 2020

MUSLIMAH DAN TANTANGANNYA 

Kohati Cabang Tulungagung
Kohati Cabang Tulungagung

Catatan ini merupakan lanjutan komentar saya atas tema Musyawarah Kohati Cabang Tulungagung tempo hari. Dengan mengusung jargon "Muslimah Intelegensia", Kohati Tulungagung seakan mengajak kita berpikir soal bagaimana sebenarnya sosok Muslimah ideal itu? Apa ciri-cirinya? Lalu, bagaimana cara mencapainya?



Sebelum lebih jauh, saya sekedar menunjukkan fakta permukaan bahwa jumlah mahasiswa di IAIN Tulungagung didominasi oleh perempuan.

Hal ini menandakan bahwa sepuluh sampai duapuluh tahun ke depan, berbagai ruang strategis di wilayah Tulungagung dan sekitar akan banyak diisi muslimah karena merekalah kaum terdidik yang akan mengalami lonjakan secara kuantitas. Namun, mirisnya atmosfer yang terbentuk, mengutip senior saya Lina Linsa Azizah, menempatkan perempuan sebagai sasaran utama laku konsumtif atau konsumerisme.

Mudah sekali mengambil contoh, misalnya lebih banyak konsumsi dihabiskan untuk membeli beraneka ragam kosmetik, gamis, jilbab, pakaian, aneka rupa makanan, mulai yang berat-berat hingga chiki-chiki.

Indikasinya mudah, kita dengan mudah melihat mahasiswi yang banting stir jualan onlen produk-produk konsumtif tersebut di masa pandemi sekarang ini. Alih-alih, mengejar kapasitas keilmuan yang tengah digeluti. Tentu ada alasan-alasan ekonomi, namun memang tidak ada kelompok atau ruang-ruang yang diciptakan organisasi yang mendorong pemberdayaan perempuan muslim hadir di masa pandemi ini.

Belum ada kelompok sipil-perempuan bersungguh-sungguh mengahadapi budaya konsumtif yang menjangkiti, belum lagi problem struktural maupun kultural yang diciptakan sistem patriarkal.

Di samping itu, ada arus lain yang berusaha melawan perilaku konsumtif yang 'sekuler' dengan berkedok agama. Namun, sebenarnya sama saja hanya bedanya yang dikomersilkan adalah agama itu sendiri. Selain itu, gerakan ini memberikan pemahaman-pemahan sempit menjadi muslimah. Cukup bicara Ikhwan ahwat, mengganti istilah pacaran dengan ta'aruf, dan seakan dengan menggunakan simbol-simbol kesalehan personal maka problem umat teratasi.

Pandangan sempit seperti itu tentu bukan ciri-ciri muslimah ideal dalam kerangka pikir HMI. Muslimah ideal tentunya merupakan seorang Intelegensia paripurna. Perempuan yang tak hanya saleh personal namun juga saleh sosial.

Penguatan doktrin keKohatian bisa diejawantahkan dengan menjawab tantangan yang dihadapi seorang muslimah untuk menjadi intelegensia sejati, tak hanyut dalam arus konsumerisme.  Upaya penguatan kapasitas melalui ragam forum diskusi, berbagai lokakarya dan pengaplikasian keilmuan perlu diintensifkan lagi.

Selain itu, sumbangsih Kohati untuk menjawab berbagai tantangan-tantangan perempuan di Tulungagung dan sekitarnya juga pasti ditunggu-tunggu. Eksistensi Kohati sebagai garda depan HMI untuk berkontestasi dengan organisasi perempuan lain di Tulungagung akan menunjukkan seberapa jauh capaian dan manfaat yang bisa diberikan.

Ala kulli hal, selamat atas terpilihnya Yunda Erin, mantan Ketum Komisariat Insan Cita, sebagai ketua formatur Kohati Cab. Tulungagung periode ini. Semoga mampu membawa Kohati ke arah yang lebih baik lagi.


Kunjungi juga website kami : www.madani.my.id
LihatTutupKomentar