RESAH

Aku duduk di salah satu warung pojok kota, mencari apakah masih ada secuil kalimat untuk mengungkapkan keadaan bangsa. Mungkin sepele, namun aku selalu menggali kenapa dan kenapa hingga jawaban itu muncul percuma.
Resah
Resah


Yah, percuma. Sebab, aku tidak bisa melakukan apa-apa setelah menemukan jawabannya. Aku mau bergerak kakiku dijegal begitu saja. Aku mau terbang sayapku dipatahkan begitu beringasnya. Aku mau mendaki tanganku diborgol kanan-kiri.

Kemudian kau datang dengan mata sembab. Berusaha tersenyum meski hatimu terjerembab. Kau melambaikan tangan padaku sambil menyapa "hai", lalu duduk dan bercerita panjang.

Wahai Bangsaku
Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu pemerintahmu sedang berleha-leha meskipun presiden sudah memarahinya. Aku tahu masyarakatmu juga menderita dan aku tahu para orangtua bingung mencari penghidupan untuk keluarganya.

Mau menuntutpun kepada siapa? Bukankah semua telinga sudah penuh jejal kebosanan semata! Mau mengadu juga kepada siapa? Bukankah para petinggi sudah menutup matanya!

Lihatlah, perempuan begitu cantik jelita hari ini. Tidak tahunya tangis ibu pertiwi semakin menjadi-jadi. Lihatlah, lelaki memoles badan agar terlihat atletis dan kokoh tak tertandingi. Tidak tahunya paru-paru dunia semakin sempit saja dan hampir mati.

Wahai Bangsaku
Kalau kau mau mengeluh bicara saja padaku, setidaknya ada satu dari seratus telinga yang mendengarmu.
Kalau kau ingin menangis datang saja padaku, setidaknya ada satu dari seribu pundak yang siap jadi sandaranmu.
Kalau kau mau menghilang bilang saja padaku, setidaknya ada satu dari sejuta begundal yang bisa menyembunyikanmu.

Aku ingin mengelus rambutmu. Sambil berkata dengan keegoisanku bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun tidak semua akan kembali baik seperti semula.

Berdirilah..
Tegapkan langkahmu, busungkan dadamu. Kau tidak boleh terlihat loyo seperti selesai lima ronde malam pertama. Kau harus kuat layaknya tembok besar China. Kau harus bangkit seperti Jepang setelah dibom atom. Tapi, ingat. Kau harus jadi dirimu sendiri sambil berkata "perjuangan belum selesai!"

M. Irham Wildana Murtafiudin penulis buku ' Beri Kami yang Terbaik' & Founder Komunitas MADANI
LihatTutupKomentar