Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Integrasi Spiritualitas Manusia dan Alam dalam Kebudayaan Resiko

Gambar
Perbincangan isu relasi manusia dengan alam kembali serius diperhatikan sebagai dampak keberlangsungan hidup yang mulai terancam. Sebagai bagian penting dari kehidupan manusia, alam musti dilestarikan.   Oleh karenanya dua entitas ini saling berkaitan. Manusia sebagai entitas yang memiliki sisi spiritual berpeluang besar dalam mengintegrasikan kembali bentuk relasinya dengan alam yang saling menguntungkan.  Belakangan ini tindakan manusia makin tidak ramah. Eksploitasi lingkunga terjadi dimana-mana. Untuk memuaskan kebutuhan diri di era modern, manusia cenderung sangat konsumtif dan semakin jauh dari kesadaran mencintai alam.  Karya Giddens mengenai modernitas yang disebutnya sebagai kebudayaan risiko diartikan bahwa, tahap ini mereduksi keberisikoan cara kehidupan secara keseluruhan (Ritzer, 2012: 946). Ulrich Back juga menunjukkan bahwa risiko-risiko modern tidak terbatas pada tempat atau waktu melainkan juga melekat pada pola kelas. Artinya masalah yang ditimbulkan oleh ilmu pengeta

Menghidupkan Kembali Mbah Mudjair

Gambar
          Iwan Dalauk (Mbah Moedjair)      Blitar, siapa yang tidak kenal dengan kota sang proklamator ini. Dimana terdapat banyak sekali pahlawan yang sudah dimakamkan di dalamnya. Termasuk Bapak Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno. Selain itu, ada hal menarik lainya di Desa Papungan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, ada seorang penemu ikan Mudjair yang menurut harian pedoman edisi 27 Agustus 1951 telah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda melalui asisten resident Kediri dengan memberinya santunan sebesar Rp.6,- per bulan. Ia juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pertanian tahun 1951 atas jasanya sebagai perintis perkembangan ikan Mudjair dari air laut ke air tawar. Tidak berhenti di situ, penghargaan datang tidak hanya dalam skala nasional, beliau juga menyabet penghargaan Internasional dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik pada tahun 1953. Di Bogor, pada 30 Juni 1954 beliau juga mendapatkan penghargaan dari Indone

LAMUNAN NEGERIKU

Gambar
Ku melamun dalam singgasana pulau kapuk Sembari membayangkan rentetan masa lalu penuh perjuangan Terjerumus dalam alunan-alunan suara tembakan  Dorr....salah satu prajurit tergeletak Tertembak dadanya sembari menjerit Merdeka atau Mati!.. Sepuluh November meletus Bumi berkabung meratapi penderitaan manusia-manusia Irlander memperjuangkan hak-haknya Atas penindasan berabad-abad lamanya B Berjuang dengan sepenuh hati Semangat bergelora nan menggebu-gebu bagai ombak-ombak berkejar-kejaran tanpa henti  Mengusir pengusik negeri ini Lamunanku tersendat.. Aku bertanya-tanya Apa yang ku bayangkan, apa yang ku lamunkan? Sosok pejuang kemerdekaan? Atas penindasan di negeri ini? Ku mencoba melamun lagi Indonesia kaya raya  Di selimuti ribuan pulau, ribuan suku, Hasil bumi melimpah nan ruah Tapi......? Lihatlah rakyat kecil.. Menderita kelaparan, menangis meronta-ronta Awan menjadi saksi  Bumi menjadi bukti Matahari menghakimi Tanpa ada yang peduli Bumi diekspl

SANG PENGAGUMMU

Gambar
Aku terngiang dalam lamunanku sendiri. Mencoba meraih mimpi dalam angan yang selalu ternodai. Cukup sedikit kopi dan hisapan rokok yang setiap hari menemani. Terbayang sosokmu dalam setiap detak jantungku. Berirama keras dalam setiap denyut nadiku. Selalu tampak mendekat, dan bersemayam dalam lubuk hatiku. Aku ingin kau tahu tentang diriku. Mata yang selalu menjadi pengingat setiap wajahmu. Dulu, dan bahkan hingga sekarang ku masih menginginkanmu. Sang bidadari bak penerjemah qalbu. Hai kau yang kerap kali datang dalam lamunan. Saksikanlah mentari yang selalu tersenyum dalam teriknya. Bulan yang selalu cemburu disetiap lirikannya. Pula alam yang selalu menari dalam setiap detiknya. Kau indah, Dan aku mengagumimu sepanjang waktu. Salam dariku sang pengagummu. Blitar, 07 September 2020 Dandi Agil Saputra, founder Komunitas MADANI