Integrasi Spiritualitas Manusia dan Alam dalam Kebudayaan Resiko


Perbincangan isu relasi manusia dengan alam kembali serius diperhatikan sebagai dampak keberlangsungan hidup yang mulai terancam. Sebagai bagian penting dari kehidupan manusia, alam musti dilestarikan.  

Oleh karenanya dua entitas ini saling berkaitan. Manusia sebagai entitas yang memiliki sisi spiritual berpeluang besar dalam mengintegrasikan kembali bentuk relasinya dengan alam yang saling menguntungkan. 

Belakangan ini tindakan manusia makin tidak ramah. Eksploitasi lingkunga terjadi dimana-mana. Untuk memuaskan kebutuhan diri di era modern, manusia cenderung sangat konsumtif dan semakin jauh dari kesadaran mencintai alam. 

Karya Giddens mengenai modernitas yang disebutnya sebagai kebudayaan risiko diartikan bahwa, tahap ini mereduksi keberisikoan cara kehidupan secara keseluruhan (Ritzer, 2012: 946).

Ulrich Back juga menunjukkan bahwa risiko-risiko modern tidak terbatas pada tempat atau waktu melainkan juga melekat pada pola kelas. Artinya masalah yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern berdampak massif terhadap aspek lainnya. 

Sebaliknya, masyarakat yang memiliki modal spiritual dapat meminimalisir persoalan sosial yang ditimbulkan. Salah satu pengetahuan itu dijelaskan oleh Harifuddin Halim, Rasyidah Zainuddin dan Fauziah Zainuddin dalam karyanya Eco-Profetik: Integrasi Pengetahuan Lokal dengan Islam tentang Lingkungan (2017).

Persoalan lingkungan dapat mengkondisikan timbulnya berbagai persoalan sosial seperti kemiskinan, konflik sosial, pengangguran, keresahan sosial, dan sebagainya. 

Karya Eco-Profetik memaparkan Masyarakat di Kecamatan Segeri mempercayai bahwa semua anggota masyarakat berhak untuk menikmati hasil alam. Melalui kesetaraan tersebut, maka semua anggota masyarakat akan merasa bertangung jawab untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya.

Pengetahuan ini menjawab tantangan risiko pola kelas yang akan semakin meningkat dalam kerakusan pengerusak alam. Nur Fadhilah dan Ni’matun Naharin dalam karya Perempuan dan Konservasi Lingkungan: Studi Bank Sampah Berlian Malang Jawa Timur, sama dalam poin usaha tanggung jawab konservasi alam yang kolektif.

Hasil penelitianya menunjukkan partisipasi masyarakat yang terbentuk dari tindakan untuk melakukan konservasi lingkungan sebagai kewajiban individu dan kewajiban kolektif adalah kesadaran yang menguatkan keberlanjutan Bank Sampah Berlian (Naharin dkk, 2017)

Kesadaran masyarakat Segeri juga terlihat dalam pengetahuan kosmologi untuk menempatkan alam dan manusia sebagai makhluk Tuhan saling membutuhkan yang kemudian berintegrasi dengan pengetahuan sufisme islam. Akhirnya secara konteks epistemologi perpaduan ini menghasilkan pengetahuan menarik tentang lingkungan mereka yang mengandung nilai sakral disebut eco-profetik. 

Pada perkembangannya, karakter sufistik yaitu: hakikat Tuhan, hakikat manusia, dan hakikat jiwa sejalan dengan karakteristik pengetahuan lokal masyarakat Segeri. Keduanya mengalami akulturasi atau pribumisasi dan tidak saling menafikan.(Halim dkk, 2017:314)

Disebutkan hubungan antara kearifan lokal dengan keberadaan agama Islam di Segeri sejak dulu baik kebudayaan lokal maupun agama Islam masing-masing melakukan penyesuaian atau adaptasi. Sehingga saling menerima unsur-unsur budaya yang baik. 

Dalam pengetahuan masyarakat Segeri, Pananrang menjelaskan sistem perhitungan didasarkan pada ‘peredaran bulan’ (qamariah) atau hijriah dan bukan pada ‘peredaran matahari’ (masehi). Penggunaan simbol-simbol huruf Alquran seperti penamaan tahun yang dikenal orang Bugis, yakni tahun alifu, ha’, jing, shod, daleng ri yolo, ba, wau, dihubungkan dengan pengetahuan mereka tentang astronomi dan fenomena alam. 

Masuknya bulan Muharram memberi tanda atau informasi tentang hujan. Lebih dari itu, awal Muharram sekaligus merupakan pijakan bagi masyarakat Segeri dalam bertindak. Secara tidak langsung keadaan tersebut menjelaskan bahwa manusia dan alam masing-masing memiliki eksistensi.

Dalam mengantisipasi kerusakan alam oleh manusia Pemmali dalam karya Harifuddin Halim atau dalam istilah budaya lain, misalnya Jawa di sebut gugon tuhon, dibuat. Orang tua hanya mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ketetapan dari orang tua secara turun temurun dan menurut ketentuan budaya harus dipatuhi.

Menanamkan nilai konservasi alam pada pelekatan Pemmali seharusnya dijelaskan pemaknaanya agar tidak hilang dan tergerus oleh perkembangan era modern. Oleh karena itu upaya untuk mendialogkan dirasa sangat perlu agar warisan usaha melindungi alam dapat ditempatkan secara sesuai.

 Khusni Albar pada karyanya Pendidikan Ekologi Sosial Dalam Prespektif Islam: Jawaban terhadap Krisis Kesadaran Ekologis (2017),  ia melihat cara mengantisipasi kerusakan alam dengan memperbaiki substansi akar berpikirnya melalui yang diistilahkan dengan pendidikan ekologi sosial.

Pendidikan ekologi sosial dalam konteks pendidikan Islam dilihat merupakan konseptual yang ideal untuk merespon persoalan lingkungan yang terjadi.

Setelah Harifuddin Halim memaparkan integrasi pengetahuan lokal dengan islam tentang lingkungan dengan sangat menarik nampak pemakaian diksi animisme dan dinamisme sebagai kepercayaan masyarakat Segeri menimbulkan kerancuan. 

Hal ini dikarenakan diksi tersebut digunakan oleh antropolog barat yang melakukan studi di Indonesia. Kesan dari diksi memakai kacamata antropolog tersebut mereduksi pengertian yang mengarah pada hal-hal negatif atau dalam agama islam disebut syirik. 

Sedangkan bila dilihat, uraian tulisan mencoba menampilkan sisi spiritual melalui jalur pandangan pengetahuan Islam yang terintegrasi dengan cara pandang pengetahuan kosmologi lokal masyarakat. 

Perihal diksi animisme dan dinamisme selayaknya tidak dipergunakan. Diksi dari sudut pandang masyarakat Segeri itu sendiri harus dikeluarkan sehingga kearifan budaya lokal lebih mendalam untuk ditampilkan.

Bagaimanapun juga pemaparan Harifuddin Halim dkk menambah pengetahuan akan sisi spiritual ajaran agama yang dilakukan terasosiasi dengan sisi pengetahuan budaya lokal yang tetap dijalankan.  

Dalam hal ini fenomena yang ditemukan pada masyarakat Segeri dalam tindakannya melihatkan titik temu hal-hal yang spiritual yaitu agama islam dengan kesadaran aspek pengetahuan lokal yang menempatkan alam bukan sebagai objek. 

Pengalaman ajaran spiritual yang dibangun dari relasi alam untuk berintegrasi di dalam era kebudayaan yang berpotensi menghasilkan resiko tinggi sudah saatnya direvitalisasi kembali bukan pada level keterpaksaan, butuh atau ingin tetapi pada level cinta. 

Bukan hanya sekedar relasi mutual tetapi mencintai alam. Sehingga relasi yang terjalin adalah kasih sayang, saling membutuhkan, saling bermanfaat, saling melestarikan, dan pada akhirnya benar-benar menjadi upaya memperbaiki ekosistem dari substansi akarnya.

Karena agama sendiri merupakan tuntunan agar manusia yang memiliki tabiat untuk tidak pernah puas sehingga berpotensi bruntal terhadap alam dapat dicegah melalui internalisasi perintah tuhan bahwa alam juga bagian dari kehidupanya. Dalam hal ini spirit spirituas islam menyuruh untuk manusia tidak melakukan kerusakan pada alam semesta.


Amilatul Khasanah, Mahasiswi Sosiologi Agama IAIN Tulungagung


LihatTutupKomentar