Menghidupkan Kembali Mbah Mudjair

        
Iwan Dalauk (Mbah Moedjair) 

  Blitar, siapa yang tidak kenal dengan kota sang proklamator ini. Dimana terdapat banyak sekali pahlawan yang sudah dimakamkan di dalamnya. Termasuk Bapak Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno. Selain itu, ada hal menarik lainya di Desa Papungan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, ada seorang penemu ikan Mudjair yang menurut harian pedoman edisi 27 Agustus 1951 telah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda melalui asisten resident Kediri dengan memberinya santunan sebesar Rp.6,- per bulan.

Ia juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pertanian tahun 1951 atas jasanya sebagai perintis perkembangan ikan Mudjair dari air laut ke air tawar. Tidak berhenti di situ, penghargaan datang tidak hanya dalam skala nasional, beliau juga menyabet penghargaan Internasional dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik pada tahun 1953. Di Bogor, pada 30 Juni 1954 beliau juga mendapatkan penghargaan dari Indonesia Fisheries Council atas jasanya menemukan ikan tersebut. Selain itu, pemerintah setempat mengangkat beliau menjadi Jogoboyo Desa Papungan dan mendapatkan gaji bulanan dari pemerintah daerah.

Iwan Dalauk, begitu nama asli dari Mbah Moedjair. Seorang lelaki tua yang telah berhasil membudidayakan ikan Mujair dari air laut ke air tawar yang membuahkan hasil pada 25 Maret 1939, atau biasa dinamakan ikan laut oleh masyarakat luas. Awalnya, Mbah Moedjair diajak oleh Kepala Desa kala itu untuk Tirakatan 1 Suro di pantai Serang. Setibanya di Serang, sebelah Timur pantai, tepatnya di muara sungai, Mbah Moedjair menemukan ikan yang menyimpan telur di mulutnya.
Ikan Mujair


Karena penasaran dan rasa ingin memiliki yang besar, Mbah Moedjair berniat untuk membudidayakanya di rumah. Beliau menjaring ikan tersebut menggunakan udeng (ikat kepala) yang biasa dipakainya. Setibanya di rumah Mbah Moedjair memasukkan ikan tersebut ke air tawar. Sontak ikan tersebut mati. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat luntur semangat Mbah Moedjair untuk memelihara ikan itu, justru beliau tambah gigih melakukan berbagai percobaan.

Mbah Mudjair kembali lagi dengan berjalan kaki ke Serang yang berjarak 35 KM dari Desa Papungan. Perjalanan tersebut memakan waktu dua hari dua malam melewati hutan belantara dan jalan yang naik turun. Kali ini ia membawa ikan tersebut sekaligus air lautnya menggunakan gentong yang terbuat dari tanah liat. Setiba di rumah beliau mencampur antara air tawar dan air laut yang rasanya asin, terus menerus dengan tingkat konsentrasi air tawar semakin lama semakin lebih banyak dari air laut yang kemudian kedua jenis air ini dapat menyatu.

Sehingga dari percobaan yang lumayan lama tersebut, Mbah Mudjair berhasil merealisasikan tujuanya yakni mendapatkan dua pasang spesies ikan yang hidup di air tawar, yang sangat berbeda dengan habitat aslinya yaitu air laut. Nama Mbah Mudjair semakin terkenal setelah itu. Ia berhasil membudidayakan ikan itu dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga kolam, dan membagikanya kepada keluarga dan tetangga-tetangganya. Sisanya ia jual ke pasar menggunakan sepedah kembang. Dari situ banyak orang yang menyebut ikan itu dengan sebutan ikan Mujair, sesuai dengan nama penemunya Mbah Mudjair.

Mbah Mudjair meninggal pada tahun 1957 karena penyakit asma yang dideritanya. Ia dimakamkan di pemakaman umum Desa Papungan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Nisannya juga dilengkapi dengan keterangan jika ia adalah penemu ikan Mujair.
Menghidupkan Kembali Mbah Mudjair
Makam mbah Moedjair

Menghidupkan Kembali Mbah Mudjair
Makam Mbah Moedjair yang terletak di Desa Papungan

Masyarakat Desa Papungan sendiri mengetahui akan letak makam penemu ikan Mudjair tersebut. Namun, pemahaman itu hanya sebatas mengetahui letak dan secuil sejarah yang dituliskan di media. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui secara detail bagaimana perjuangan Mbah Mudjair membudidayakan ikan temuanya dan kontribusi besar yang sudah ia berikan kepada lingkungan. Memang tanpa sadar Desa Papungan sendiri ikut terkenal atas kerja keras beliau. Sayangnya, hal tersebut tidak didukung oleh kepedulian masyarakat Desa Papungan untuk lebih menghidupkan kembali spirit mbah Mudjair.

Di samping makam Mbah Mudjair terdapat Pohon Kamboja yang tumbuh tanaman mahoni pada batang pohon tersebut

Penulis yakin kebanyakan anak cucu masyarakat Desa Papungan mengetahui akan keberadaan Mbah Mudjair ketika mereka sudah menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah. Sekali lagi, hanya beberapa anak yang kepo dengan keberadaan Mbah Mudjair saja yang bakal menggali lebih dalam bagaimana semangat juangnya dan bagaimana nama beliau bisa mendunia. Sebab, kurangnya pengelolaan dari pihak desa dan kurangnya kepedulian dari masyarakat Papungan sendiri.

Bisa jadi kalau cagar budaya ini tidak dilestarikan oleh masyarakat sekitar, maka akan terjadi lagi adanya warisan budaya milik Indonesia yang diakui atau diklaim oleh negara asing yang lebih dalam belajar mengenai budaya dan adat Jawa. Seperti halnya Tari Reog Ponorogo yang diklaim milik Pemerintah Malaysia. Dan hingga sekarang pun sudah tercatat ada 33 budaya yang sudah diklaim oleh negara asing, bukan hanya Malaysia saja. Lalu, apakah ikan Mujair ini mau dijadikan urutan yang ke 34 dan diklaim oleh negara asing? Apakah tidak malu dengan Mbah Mudjair yang berusaha membudidayakanya agar menjadi spesies baru di air tawar?

Dalam hal ini sepertinya jawaban kita sama, tidak! Atau mungkin ada segelintir orang yang memang memiliki kepentingan untuk menggemukkan kantong mereka sehingga rela memberikan hak milik Indonesia kepada antek asing? Hal seperti ini harus kita antisipasi sejak dini. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Toh, letak Desa Papungan yang strategis bisa digunakan untuk menambah anggaran desa. Bagaimana tidak, Papungan berada di perbatasan antara kota dan kabupaten Blitar. Besar kemungkinan kita menjual produk lokal untuk memulihkan perekonomian desa, dan dapat mengangkat UMKM masyarakat sekitar.

Lodoyo memiliki tradisi siraman Gong Kyai Pradah setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal. Penataran memiliki Purnama Seruling yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Pantai Serang ada tirakatan dan larung setiap malam satu Suro. Lalu, kenapa perjuangan Mbah Mudjair sebagai penemu ikan Mujair tidak kita peringati seperti yang lain! Mengadakan tumpengan mungkin, atau bersama-sama mengirim doa di pemakaman Mbah Mudjair. Menampilkan potensi-potensi lokal dan kembali memperkenalkan pada dunia bahwa di Papungan ada sosok penemu ikan Mujair yang bisa sampai go internasional.

Blitar, 10 September 2020


M. Irham Wildana M, Penulis buku Beri Kami Yang Terbaik dan Founder Komunitas MADANI
LihatTutupKomentar