Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Warung Kopi Transformatif: Dari Tempat Santai Hingga Diskusi Progresif

Gambar
  Oleh Anma Muniri Warung kopi merupakan tempat yang nyaman untuk melakukan refreshing baik secara individu maupun kelompok. Para pelanggan setia warung kopi mengekspresikan segala tindakan dengan santai (mencari signal, main game,   bersendau gurau, kencan dll) maupun serius (mengerjakan tugas, kuliah daring, diskusi, dan lain-lain) . Hal ihwal seperti bermain game maupun mendiskusikan suatu hal memang lumrah ditemukan di warung kopi.   Salah satunya di Kabupaten Tulungagung warung kopi sangat masif terlihat berjejeran. Kota inipun identik dengan kota cethe. Lantas, cocok sekali apabila Tulungagung dijuluki sebagai kota seribu satu warung kopi. Pelanggan pun sangat majemuk yang mayoritas terdiri dari usia remaja maupun dewasa. Maka tidak heran apabila warung kopi masih menjadi pilihan alternatif untuk mengerjakan tugas maupun melepas penat.   Akhir-akhir ini, berbagai kelompok mahasiswa yang sangat plural seringkali mengadakan diskusi di sekitaran kampus IAIN Tulungaging

Urgensi Mahasiswa menjadi KUPU-KUPU, Organisatoris dan Aktivis

Gambar
Oleh, Anma Muniri Siswa yang berada di kelas 12 tingkat SLTA pastinya sudah memikirkan masa depan yang akan di jalani. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, ASN, teknisi, pilot, dan lain sebagainya. Semua itu di pikirkan demi meraih cita-cita yang didambakan. Terlebih dibarengi dengan dukungan orang tua berupa moril dan materiil menkonstruk pola pikir dan surplus tersendiri. Salah satu hal yang masif di pikirkan oleh siswa  SLTA adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mengenal lebih jauh, pendidikan tinggi identik dengan memproduksi para akademisi bahkan dapat mencetak kaum borjuasi. Sering kali pertimbangan yang di jadikan patokan adalah "Kuliah mau jadi orang". Lebih jelasnya tujuan  pendidikan tinggi diatur dalam UU RI 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 5 diantaranya, mengembangkan potensi mahasiswa, menghasilkan lulusan yang kompeten, menghasilkan IPTEK melalui penelitian, mewujudkan pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian.

Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama

 Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama  Oleh Sulkhan Zuhdi Di Jawa, masjid-masjid tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Ramalan teoritikus sekuler soal berkurangnya peran institusi keagamaan seakan hancur lebur tidak berbekas. Senjakala agama tidak kunjung datang, malahan paham sekulerisme secara formal dihabisisi lewat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.7/Kongres Nasional VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama. Ungkapan ini tentu bukannya tanpa dasar. Tidak hanya agama, di Indonesia setelah kejatuhan pemerintahan Soeharto, ortodoksi keagamaan menguat. Dampaknya tentu saja pemingggiran ‘suara-suara lain’, meminjam istilah yang dipakai Hairus Salim dalam pengantar edisi terjemahan bahasa Indonesia buku Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (2004). Pengingkaran akan keberadaan hak yang liyan nyata-nyata berdampak besar. Hilangnya diskursus akademik terkait kekompok-kelompok yang dulu sering diolok sebagai abangan d

Produktif di Tengah Krisis Pandemi

Gambar
 Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia ini. Dikatakan demikian, karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani atau bercocok tanam. Tidak heran memang, jika bahan mentah seperti sayur-mayur dan buah-buahan dapat dibeli dengan murah ataupun ditanam sendiri. Tanah Indonesia terkenal subur untuk menanam sayur-mayur, rempah-rempah, buah-buahan, ataupun jenis tumbuhan lain. Hal itu dapat dibuktikan dengan kedatangan Belanda pada zaman sebelum kemerdekaan untuk menguasai sumber daya alam melimpah yang ada di Indonesia.   Situasi di Indonesia saat ini, berbanding terbalik dan berbeda dari yang biasanya terjadi. Saya yang dulu mendapatkan sayur-mayur, bumbu dapur, dan tanaman obat tradisional sangat mudah dengan mengunjungi pasar tradisional, kini harus rela tidak mendapatkannya karena stoknya terbatas. Ketika menemukannya itu sudah layu, ataupun dalam kondisi kurang baik dikonsumsi. Tidak hanya sayur mungkin, sektor lain pun mengalami kendala karena adanya situasi i