Produktif di Tengah Krisis Pandemi

 Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia ini. Dikatakan demikian, karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani atau bercocok tanam. Tidak heran memang, jika bahan mentah seperti sayur-mayur dan buah-buahan dapat dibeli dengan murah ataupun ditanam sendiri. Tanah Indonesia terkenal subur untuk menanam sayur-mayur, rempah-rempah, buah-buahan, ataupun jenis tumbuhan lain. Hal itu dapat dibuktikan dengan kedatangan Belanda pada zaman sebelum kemerdekaan untuk menguasai sumber daya alam melimpah yang ada di Indonesia.  



Situasi di Indonesia saat ini, berbanding terbalik dan berbeda dari yang biasanya terjadi. Saya yang dulu mendapatkan sayur-mayur, bumbu dapur, dan tanaman obat tradisional sangat mudah dengan mengunjungi pasar tradisional, kini harus rela tidak mendapatkannya karena stoknya terbatas. Ketika menemukannya itu sudah layu, ataupun dalam kondisi kurang baik dikonsumsi. Tidak hanya sayur mungkin, sektor lain pun mengalami kendala karena adanya situasi ini (lockdown). Pandemi ini disebabkan oleh coronavirus atau covid-19 yang menjadi ancaman dan tantangan nyata ditengah masyarakat.

Corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan seseorang. Virus ini ditandai dengan hadirnya beberapa gejala awal seperti batuk, pilek, panas tinggi, demam, sesak nafas, dan lain sebagainya. Namun, gejala tersebut tidak menjadi tolak ukur kalau seseorang terkena virus tersebut, sebab ada pasien positif terpapar virus ini yang tidak menunjukkan gejala sama sekali (Orang Tanpa Gejala/OTG). Oleh karena hal itu, masyarakat dituntut pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah diterbitkan dengan mengalihkan segala aktivitas di rumah sebagai cara aman untuk menghindari virus ini, mulai dari bekerja, ibadah, sekolah, komunikasi, dan kegiatan lainnya.

Situasi tersebut tidak baik pada perekonomian khususnya, dan bidang lain  umumnya. Oleh sebab itu, pemerintah berupaya dengan membuat terobosan new normal  untuk move on dari keadaan ini supaya tidak berlarut-larut dan semakin terpuruk. Namun, perlu dicatat aktivitas yang berlangsung harus mematuhi protokol kesehatan yang dibuat oleh pemerintah, terdiri dari anjuran untuk selalu memakai masker, menerapkan social distancing, rajin mencuci tangan, menghindari kerumunan, menerapkan pola hidup sehat, selalu menjaga kebersihan lingkungan, memenuhi aspupan tubuh dengan makanan bergizi, dan masih banyak tindakan lain. Adanya pandemi ini sangat menguras tenaga dan pikiran, terutama pihak yang bekerja dibidang kesehatan. Tidak hanya Kementrian Kesehatan saja yang dipusingkan dengan melonjaknya pasien virus corona, melainkan Kementrian Pertahanan yang harus memikirkan ketahanan pangan supaya tetap aman dan cukup dimasyarakat. Ketahanan pangan memang menjadi hal yang penting ditengah pandemi ini, sebab kelangkaan bahan pangan akan membuat masyarakat menjadi tidak nyaman dan sejahtera. Kesejahteraan juga akan membantu dalam bidang pertahanan negara, sebab tambuhnya rasa cinta tanah air pada diri seseorang karena percaya ia diperjuangkan penuh oleh negara.  Peran pemerintah memang menjadi sesuatu yang sentral, namun masyarakat harus mandiri dengan mencari solusi dari pemecahan masalah ini.

Kegiatan selama di rumah, harus diisi dengan hal yang bermanfaat. Tidak hanya komunikasi yang dipererat saja, melainkan cara dalam mengatur kestabilan ekonomi rumah tangga. Hal tersebut menjadi vital ditengah pandemi ini, satu sisi kebutuhan keluarga harus terpenuhi, disisi lain pemasukan tidak mencukupi seperti biasanya. Kebutuhan pokok harus diutamakan, terutama masalah pangan yang menjadi unsur dalam bertahan hidup. Masyarakat harus berusaha dan mandiri disamping menunggu bantuan pemerintah yang datang. 

Pekarangan rumah yang dimiliki oleh masyarakat bisa dimanfaatkan untuk hal berguna dalam kehidupan sehari-hari. Pekarangan rumah merupakan kawasan yang ada disekeliling rumah kita, baik samping, depan, maupaun belakang. Pekarangan rumah yang tidak dimanfaatkan akan terasa sia-sia. Padahal, jika berfikir kreatif bisa dimanfaatkan untuk lahan produksi bahan pangan sehari-hari. Selain itu bisa dimanfaatkan sebagai apotik hidup dan taman mini keluarga kita.

Pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran. Sayuran yang ditanam bisa beragam jenisnya seperti sawi, terong, bayam, kangkung, tomat, cabai, buncis, pare, mentimun, dan sayur lain. sayur tersebut bisa diolah untuk mendampingi nasi dalam memenuhi gizi seimbang. Zat dalam sayur membantu pertumbahan tubuh menjadi optimal dan kebutuhan nutrisi terpenuhi. Hal itu bisa dikatakan sebagai perwujudan program pemerintah “empat sehat lima sempurna”.

Tidak hanya sayur saja yang dapat ditanam, rempah-rempah juga bisa dibudidayakan. Bumbu dapur tersebut seperti kunyit, jahe, bawang merah, kencur, lengkuas, serai, dan lain sebagainya. Seiring berkembangnya zaman muncul inovasi menanam buah dipekarangan rumah dengan pot seperti kelengkeng, sawo, jambu air, jambu biji, nanas, strawbery, srikaya, lemon, dan buah-buahan lain. Kegiatan produktif seperti ini bisa mengisi waktu luang sekaligus sebagai sarana edukatif masyarakat,  juga akan membantu menuju Indonesia yang berketahanan pangan dengan mandiri menanam sendiri.   

Menanam di pekarangan rumah sangatlah mudah dan murah. Seseorang harus mengerti terlebih dahulu media tanam yang akan ia gunakan. Media tanam ini nantinya akan berpengaruh terhadap hasil produksi pada akhirnya. Media cocok tanam yang dimaksud berupa tanah langsung, polibag, pot bunga, atau bahan bekas yang bisa digunakan seperti ban, ember, dan alat lain. Selain media cocok tanam, seseorang harus tahu karakteristik tanaman yang akan dibudidayakan. Untuk sayuran, tanah yang digunakan harus gembur supaya mudah ditembus oleh akar, sedangkan buah-buahan memerlukan media tanam yang keras untuk berpegangan akarnya.

Kegiatan ayo tanami pekarangan merupakan salah satu upaya dalam mencegah inflasi yang terjadi dimasyarakat saat pendemi ini. Dengan menanam kebutuhan seperti cabai dan sayur dapat terpenuhi tanpa membeli sehingga terjadi kemandirian ekonomi. Harga komoditi yang ada dipasaran juga sewaktu-waktu bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Tidak hanya bermanfaat sebagai pangan, sayuran yang ditanam juga akan menjadikan lingkungan rumah menjadi sejuk, asri, dan sehat. Hal tersebut karena produksi oksigen melimpah yang dilakukan oleh tanaman sekeliling rumah. 

Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana jika kita tidak punya pekarangan rumah yang luas untuk menanam tanaman sendiri. Banyak sekali alternatif untuk membuat kebun mini di rumah tanpa membutuhkan lahan yang luas. Alternatif pertama, dengan menggunakan konsep kebun hidroponik yang hanya perlu menyediakan pipa atau botol bekas sebagai media tanam. Beberapa pipa yang berukuran cukup panjang dapat disusun secara vertikal, sehingga tidak memakan banyak tempat.

 Sedangkan alternatif kedua, yaitu membuat kebun sayur dengan pot gantung. Metode satu ini sangat cocok apabila lahan pekarangan rumah tidak terlalu luas. Caranya dengan menyiapkan papan kayu berbentuk persegi panjang sebagai alat untuk menggantung sejumlah pot. Bisa juga menggunakan tali yang terikat ke atap atau dinding rumah. Pastikan tali atau alat yang digunakan untuk menggantung pot tahan lama dan kuat untuk menahan beban.

Ketika seseorang memiliki lahan luas, ia tidak perlu menggunakan pot gantung atau media hidroponik seperti penjelasan diatas. Menanam di pekaranagn rumah hanya memerlukan cangkul sebagai alat membuat lahan. Sedangkan, alat perawatannya berupa selang atau pipa untuk menyiram disaat pagi dan sore hari. Alat-alat tersebut sangat mudah ditemukan pada perabotan rumah tangga.  Masalah pupuk bisa menggunakan organik dari kotoran hewan seperti kambing, sapi, ayam, ataupun pupuk kompos dari pembusukan dedaunan. Ketika tanaman telah tumbuh besar, tidak usah dikasih pupuk kimia cukup dengan pupuk organik saja.

Selain sayur dan buah-buahan, penting bagi kita untuk menanam tanaman rempah sebagai apotik hidup. Anggapan orang jawa menyebutkan bahwa tanaman rempah diantaranya kunyit, jahe, lengkuas, dan tanaman rempah lainnya dapat membantu kita meningkatkan daya tubuh sehingga membantu menghindari dari virus corona maupun penyakit lainnya. Meskipun belum ada penelitian klinis mengenai khasiat tanaman rempah untuk mencegah virus corona, melihat dari kandungan yang ada pada kunyit, jahe, lengkuas, diantaranya ada antioksidan, antiinflamasi, dan banyak khasiat lainnya yang berkhasiat bagi tubuh, maka tidak ada salahnya jika kita mengkonsumsi untuk kesehatan. Selain sehat karena usaha sendiri, juga akan menghemat pengeluaran untuk beli obat dan tentunya tanpa efek samping.

Cara membudidayakan rempah-rempah tidaklah sulit, umumnya ditanam sama seperti sayuran. Beberapa tanaman rempah dapat tumbuh tanpa diberi pupuk. Bahkan tanaman  rempah juga dapat ditumbuhkan ulang seperti jahe, kunyit, dan jenis lain yang menggunakan umbi untuk budidayanya. Seperti penjelasan diatas, media adalah salah satu kunci utama dalam bercocok tanam, termasuk juga bagi tanaman rempah ini. Namun tanaman rempah lebih cepat beradaptasi dibandingkan dengan buah dan sayur.

 Tanaman rempah juga bisa ditanam secara hidroponik, Jadi, sangat mudah dan praktis sekali dalam menghemat waktu. Hanya perlu menjaganya dari tanaman hama yang dapat merusak pertumbuhan tanaman rempah. Perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman rempah adalah masa panen. Setiap tanaman rempah memiliki masa panen yang berbeda-beda yang mempengaruhi kandungan kimia didalamnya ketika digunakan sebagai obat tradisional nantinya. 

Kondisi akhir-akhir ini menyebutkan terjadi kenaikan harga rempah–rempah terutama jahe. Hal itu terjadi karena mengingat begitu banyaknya khasiat dari tanaman ini. Jahe dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati batuk, meredakan tenggorokan, dan lain sebagainya. Selain baik bagi kesehatan jika dikonsumsi, menanam tanaman rempah juga dapat menjadi sumber pemasukan tambahan di tengah pandemi. 

Pemerintah selalu mengajak masyarakat untuk menanam sayuran dan buah sendiri. Hal itu sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan sekaligus gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS). Masyarakat akan sehat, apabila gizi mereka terpenuhi. Gizi dapat dipenuhi dari hasil menanam sayur dan buah sendiri yang akhirnya mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas sumber daya manusia yang mumpuni nantinya akan berpengaruh pada kemajuan sebuah negara.


Seribu manfaat dari pemanfaatan pekarang untuk ditanami perlu disadari. Rakyat Indonesia perlu sadar diri dari berkeluh kesah saja dengan mengaharap uluran tangan pemerintah selama pandemi. Tidak perlu gengsi akan kebutuhan sayur dan buah-buahan impor. Kita harus yakin, dengan menanam sendiri lebih baik dari itu. Selain terciptanya kemandirian ekonomi, menurunnya inflasi, dan makanan bergizi terpenuhi, secara tidak langsung telah membantu mengatasi panas global yang terjadi saat ini.

Penulis, Bagas Aldi Pratama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD?

RESAH

Indonesia Belum Terbiasa Membaca