Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Urgensi Mahasiswa menjadi KUPU-KUPU, Organisatoris dan Aktivis

Gambar
Oleh, Anma Muniri Siswa yang berada di kelas 12 tingkat SLTA pastinya sudah memikirkan masa depan yang akan di jalani. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, ASN, teknisi, pilot, dan lain sebagainya. Semua itu di pikirkan demi meraih cita-cita yang didambakan. Terlebih dibarengi dengan dukungan orang tua berupa moril dan materiil menkonstruk pola pikir dan surplus tersendiri. Salah satu hal yang masif di pikirkan oleh siswa  SLTA adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mengenal lebih jauh, pendidikan tinggi identik dengan memproduksi para akademisi bahkan dapat mencetak kaum borjuasi. Sering kali pertimbangan yang di jadikan patokan adalah "Kuliah mau jadi orang". Lebih jelasnya tujuan  pendidikan tinggi diatur dalam UU RI 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 5 diantaranya, mengembangkan potensi mahasiswa, menghasilkan lulusan yang kompeten, menghasilkan IPTEK melalui penelitian, mewujudkan pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian.

Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama

 Matinya Sekulerisme dan Kebebasan Beragama  Oleh Sulkhan Zuhdi Di Jawa, masjid-masjid tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Ramalan teoritikus sekuler soal berkurangnya peran institusi keagamaan seakan hancur lebur tidak berbekas. Senjakala agama tidak kunjung datang, malahan paham sekulerisme secara formal dihabisisi lewat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.7/Kongres Nasional VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama. Ungkapan ini tentu bukannya tanpa dasar. Tidak hanya agama, di Indonesia setelah kejatuhan pemerintahan Soeharto, ortodoksi keagamaan menguat. Dampaknya tentu saja pemingggiran ‘suara-suara lain’, meminjam istilah yang dipakai Hairus Salim dalam pengantar edisi terjemahan bahasa Indonesia buku Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (2004). Pengingkaran akan keberadaan hak yang liyan nyata-nyata berdampak besar. Hilangnya diskursus akademik terkait kekompok-kelompok yang dulu sering diolok sebagai abangan d