Urgensi Mahasiswa menjadi KUPU-KUPU, Organisatoris dan Aktivis




Oleh, Anma Muniri

Siswa yang berada di kelas 12 tingkat SLTA pastinya sudah memikirkan masa depan yang akan di jalani. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, ASN, teknisi, pilot, dan lain sebagainya. Semua itu di pikirkan demi meraih cita-cita yang didambakan. Terlebih dibarengi dengan dukungan orang tua berupa moril dan materiil menkonstruk pola pikir dan surplus tersendiri.


Salah satu hal yang masif di pikirkan oleh siswa  SLTA adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mengenal lebih jauh, pendidikan tinggi identik dengan memproduksi para akademisi bahkan dapat mencetak kaum borjuasi. Sering kali pertimbangan yang di jadikan patokan adalah "Kuliah mau jadi orang".


Lebih jelasnya tujuan  pendidikan tinggi diatur dalam UU RI 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 5 diantaranya, mengembangkan potensi mahasiswa, menghasilkan lulusan yang kompeten, menghasilkan IPTEK melalui penelitian, mewujudkan pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian.


Dalam sejarahnya, perguruan Tinggi tertua pertama didunia ditempati oleh University Al-Karaouine yang terletak di Fes, Maroko. Kampus ini masuk dalam Guiness World Record yang didirikan pada tahun 859 Masehi. Awal mula berdiri kampus ini berupa masjid yang didirikan oleh perempuan yang bernama Fatima al-Fihri (Article Larbi Arbaoui "Al Qarawwiyin of Fes: The Oldest University of the World).


Kampus kedua disusul al Azhar, (Kairo Mesir 972 M), ketiga University Bologna 1088, penentuan tanggal tersebut termaktub dalam penelitian Nuria Sanz dan Sjur Bergan "The Heritage of European Universities" yang terhimpun dalam Higher Education Series No. 7 (2006), kampus keempat di tempati Oxford University (1096) yang terkenal dengan kampus yang melahirkan tokoh-tokoh tersohor.

 

Sedangkan pendidikan tinggi di Indonesia  awal mula berdiri pada tahun 1920 yang bernama Technische Hogeschool (THS) di Bandung. Tetapi cikal bakal pendidikan tinggi juga tidak luput dari didirikannya School tot Opleiding voor Indische Arsten (STOVIA) yang menjadikan lulusannya sebagai juru cacar (medisch vaccinateur). Kemudian pada tahun 1902 STOVIA didesain mirip dengan perguruan tinggi yang lulus dengan kuliah selama tujuh tahun dan bagi lulusannya memiliki gelar Inlandsche Arts (Dokter Bumiputera).¹


Menginjak dari sejarah pendidikan tinggi di masa sekarang, sering kali mahasiswa yang berasal dari alumni sekolah tempat mengais ilmu dahulu juga melakukan event-event pengenalan dan promosi kampus secara insidental. Pernah dulu disekolahku ada salah satu guru resah dengan melayangkan pernyataan dikelasku   "Baru semester empat saja sudah lupa sama gurunya". Tentu hal ini tamparan tajam dan penegasan bahwa arogansi tidaklah berujung pada kemaslahatan.


Kadangkala inspirasi yang muncul di benak siswa yang akan bertransformasi menjadi mahasiswa adalah pendidikan tinggi mampu mengangkat derajat diri. Biasanya juga secara primordial anak yang orang tuanya guru mengaksentuasikannya untuk masuk diperguruan tinggi. Ada juga stigma bahwa dengan masuk perguruan tinggi dapat meningkatkan strata sosial dan memutus sanad kemiskinan. 


Selain dari impuls personal masuk di perguruan tinggi, dorongan juga muncul dari orang tua yang non ASN. Tendensi mulus atau tidaknya perkuliahan nanti, salah satu faktornya adalah dana segar dari orang tua apabila tidak mendapatkan beasiswa. Kemudian ada juga yang memiliki niat personal yang kuat dan berpegang teguh pada "yakin usaha sampai".


Segala niat tergantung pada hasil yang ingin dicapai atau potensi kognitif yang akan dikembangkan. Setelah proses pendaftaran selesai dan sudah memasuki bangku perkuliahan maka selain terdiri dari proses pembelajaran juga terdapat wadah pengembangan skil dan organisasi baik ormawa maupun ormek. Tentu pilihan akan muncul untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu, organisatoris, ataupun aktivis.


Trikotomi diatas selalu ada slot-slot yang mengisinya tetapi perlu di presesi maknanya secara subtansial. Kupu-kupu tidak serta merta pasif secara sosio-kultural. Bagi karateristik ini kadangkala kuliah dianggap sebagai medan sampingan, mungkin juga telah memiliki usaha atau potensi yang mumpuni diluar kampus. 


Begitupula organisatoris, kesalah kaprah penafsiran yang terus mengakar yaitu mahasiswa sulit membedakan antara organisatoris dan aktivis. Acap kali organisatoris dianggap sebagai aktivis padahal keduanya memiliki disparitas. Organisatoris tentu ditujukan pada mahasiswa yang aktif di organisasi manapun. Sedangkan aktivis lebih tepat dimaknai sebagai kegetolan mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak orang lain khususnya terhadap ketimpangan sosial. Bisa memperjuangkan kaum-kaum mustad'afin, kaum marginal maupun kaum tertindas. Perjuangan terhadap alam juga bisa dimaknai sebagai aktivis.


Berbagai narasi yang berkembang, menjadi mahasiswa kupu-kupu selalu menjadi stereotip bahkan menjadi bahan candaan bagi aktivitas maupun organisatoris. Begitupula dari kupu-kupu juga melayangkan candaan yang berupa "awalnya niat kuliah tapi kok mementingkan organisasi". Hal ini terus berulang-ulang hingga masa yang tidak tentu.


Kupu-kupu tidak serta merta remeh jika benar-benar mendalami segala mata kuliah yang di tempuh. Gelar yang akan disandang juga sebagai momentual yang sangat fundamental agar lulus tepat waktu. Begitupula organisatoris dan aktivis memiliki ruang dan lingkup yang berbeda. Beda dalam bentuk fungsi maupun tujuan. Tetapi apabila menginginkan ilmu lebih ya ikut organisasi tentu banyak teman dan banyak pengalaman.


Dalam intra kampus ada ormawa yang berupa HMJ/HIMA PRODI, BEM/DEMA, UKM dan UKK. Ekstra kampus ada PMII, GMNI, IMM, GMKI, KAMMI dll. Ada pusat-pusat studi yang mengembangkan kapasitas intelektual dan lain sebagainya. Segala pilihan tergantung pada kemantapan hati maupun ajaan dari sang pujaan hati atau hanya sekedar teman di saat sepi. Tergantung pada intelectual conscience nantinya akan dapat memutuskan pilihan yang ideal.


Salah satu organisasi ekstra kampus yang melahirkan beberapa kaum intelektual adalah HMI. Prototipenya yaitu Kuntowijoyo, Delian Noer, Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, Fachry Ali, Airlangga Pribadi Kusman, Moeslim Abdurrahman, Djohan Effendi, Mulyadi Kartanegara dll. Dengan ber HMI, berarti kita berusaha menjadi kaum-kaum cendekia yang mampu menjadi penerus bangsa dalam mengatasi dinamika sosial yang ada.


¹http://helm-mmpt.pasca.ugm.ac.id/opini/opini/sejarah-pendidikan-tinggi-di-indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD?

RESAH

Indonesia Belum Terbiasa Membaca