Warung Kopi Transformatif: Dari Tempat Santai Hingga Diskusi Progresif

 

Oleh Anma Muniri


Warung kopi merupakan tempat yang nyaman untuk melakukan refreshing baik secara individu maupun kelompok. Para pelanggan setia warung kopi mengekspresikan segala tindakan dengan santai (mencari signal, main game,  bersendau gurau, kencan dll) maupun serius (mengerjakan tugas, kuliah daring, diskusi, dan lain-lain) . Hal ihwal seperti bermain game maupun mendiskusikan suatu hal memang lumrah ditemukan di warung kopi.

 

Salah satunya di Kabupaten Tulungagung warung kopi sangat masif terlihat berjejeran. Kota inipun identik dengan kota cethe. Lantas, cocok sekali apabila Tulungagung dijuluki sebagai kota seribu satu warung kopi. Pelanggan pun sangat majemuk yang mayoritas terdiri dari usia remaja maupun dewasa. Maka tidak heran apabila warung kopi masih menjadi pilihan alternatif untuk mengerjakan tugas maupun melepas penat.

 

Akhir-akhir ini, berbagai kelompok mahasiswa yang sangat plural seringkali mengadakan diskusi di sekitaran kampus IAIN Tulungaging. Tempat tersebut dapat ditemukan di warung kopi Bagong, Gandrung, Kopyah Ireng, Marofo, Pak Bolo, Cinta Bunda dan lain-lain. Hal ini menandakan terjadinya transformasi yang secara tidak sadar menjadikan warung kopi semakin progresif dalam kultur Intelektualitas.

 

Uniknya lagi, selain sebagai tempat diskusi juga digunakan sebagai tempat rapat oleh beberapa organisasi intra maupun ekstra. Pergeseran yang masif disertai dengan suasana yang mendukung.  Hal ini menjadi surplus bahkan urgensitas warung kopi berevolusi sebagai basis dalam penguatan jiwa organisatoris maupun akademis.

 

Warung kopi seperti memiliki pengaruh  besar sebagai ruang publik sekaligus berfungsi sebagai tempat bertukar gagasan. Ide-ide cemerlang muncul silih berganti sesuai tema yang di bahas baik secara formal maupun non formal. Maka dari itu, warung kopi dapat dijadikan sebagai rumah kedua selain kampus dalam mewariskan khazanah pengetahuan mahasiswa.

 

Selama ini dalam warung kopi tidak ada kriteria khusus bagi pelanggan. Siapa saja dapat masuk dan membeli apapun yang di inginkan. Tidak mengenal strata sosial maupun kultur komunal. Patut digaris bawahi pula, meskipun namanya warung 'kopi' tidak hanya kopi saja yang dijual oleh pemilik warung kopi. Beragam varian yang di sediakan mulai dari kopi, es, teh, minuman bersoda, dan berbagai jajanan.

 

Warung kopi sebagai representasi ruang publik dalam realitasnya sebagai tempat non-privat. Artinya obrolan warung kopi bersifat universal, inklusif dan tidak individualistik. Hal ini sesuai dasar logika Habermas yang memaknai ruang publik mungkin untuk ada dan dipahami karena ada ruang privat. Sedangkan menurut Rabotnikov Subtansi ruang publik dan ruang privat dapat di identifikasi dengan tiga bipolaritas. Diantaranya masyarakat versus individu, keterbukaan versus keprivatan, keterlihatan versus ketersembunyian.

 

Maka hal ini jelas, warung kopi sebagai prototype ruang publik yang sangat fundamentalistik.  Dalam tinjauan historis, awal mula ruang publik  ada dua versi. Pertama pada masa Yunani Kuno  dikenal dengan agora (pasar) dan polis (negara, kota). Kedua di temukan pada abad 17 di Eropa yang dibarengi dengan kapitalisme yang di gerakkan oleh kaum borjuis. Ruang publik abad ini di afirmasi oleh Habermas.

 

Habermas menandakan lahirnya ruang publik borjuis tidak terlepas dari kekritisan masyarakat sipil (borjuis) dalam melayangkan gugatan tentang sudahkah negara melayani kepentingan publik. Negara diajak berdebat dengan mengambil isu komoditas, kerja, kebijakan dan lain-lain.¹ Hal ini dapat di labeli bahwa ruang publik borjuis dapat di maknai sebagai 'mediasi dialektis' antara ranah privat dengan ranah publik.

 

Pada perkembangan yang lebih jauh lagi ruang publik bersifat literer meskipun awalnya berintrik sastra kemudian berkembang ke arah realitas nyata. Perdebatan demi perdebatan kemudian menjadi daya tarik baik dalam segi sosial maupun politik.  Contoh kecilnya di warung kopi  Bagong yang mendiskusikan pembahasan kebijakan pemerintah dalam UU Omnibuslaw yang dilaksanakan oleh Dema FUAD pada tahun 2020 kemarin. Dalam spektrum lanjutan segala hal yang mampu ditangkap rasio tidak lepas dari objek perdebatan.

 

Memang lahirnya ruang publik literer di warung kopi tidak dapat dipisahkan dari personal maupun komunitas yang getol mengampanyekan pentingnya membangun kultur diskusi progresif.

 

Sehingga pelabelan warung yang cocok untuk membangun atau merefleksikan paradigma baru semakin muncul. Seiring dengan masifnya warung kopi yang menjadi pilihan yang pas untuk membumikan nafas-nafas diskusi.

 

Dalam realitas perdebatan/diskusi sejauh ini, di warung kopi Tulungagung terdapat dikotomi yang dapat di klasifikasikan secara objektif. Pertama diskusi random, sifatnya non formal, dalam diskusi ini dilakukan oleh segelintir orang. Minimal dua orang dan maksimal tanpa batas dengan membahas objek yang bermacam-macam tidak terbatas pada tema tertentu dan waktu tertentu.

 

Kedua, diskusi tematik, dalam diskusi ini mengambil tema-tema khusus, dilaksanakan oleh komunitas, organisasi intra maupun ekstra kampus. Pada kriteria ini terdapat panitia yang mempersiapkan sarana prasarana.

 

Meskipun di sekitaran IAIN Tulungagung mulai muncul kultur ruang publik literer tetapi tidak dapat menafikan para pecinta game yang berada disetiap sudut warung kopi.  Hal ini menandakan dimensi multikultural yang memiliki tupoksi masing-masing.

 

Tetapi perlu diapresiasi pula dengan munculnya ruang publik literer seperti ini menandakan adanya upaya untuk mengatasi buta wacana maupun buta literasi khususnya di Tulungagung dan sekitarnya.

 

Anma Muniri, pegiat sejarah asal Trenggalek

 

¹Habermas, J├╝rgen. (1989). The Structural Transformation of Public Sphere: An In- quiry into Category of Bourgeois Society,Thomas Burger (terj.). Cambridge: Polity Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Perlu #MosiTidakPercaya buat KPUM FUAD?

RESAH

Indonesia Belum Terbiasa Membaca